Kamis, 05 November 2015

thumbnail

Memotret Sunrise dan Sunset Agar Lebih Optimal

1. Riset Lokasi
Sebelum mendatangi lokasi untuk memotret sunset atau sunrise, ada baiknya menari informasi mengenai lokasi tersebut. Bagaimana menuju ke sana, apa saja yang perlu dipersiapkan, bagaimana kondisi di lokasi. Jangan sampai sudah jauh-jauh datang ternyata tidak mendapatkan sunset ataupun sunrise  .
2. Cari Referensi
Setelah mendapatkan informasi lokasi memotret sunrise atau sunset, perlu juga mencari referensi foto-foto apa saja yang sudah pernah diambil oleh fotografer lain. Bukan soal meniru, namun sebaliknya. Harapan dengan mencari referensi agar jangan sampai foto kita mempunyai kemiripan, ambil dari sudut dan angle yang berbeda.
3. Berangkat Lebih Awal
Datang lebih awal untuk persiapan serta menentukan spot di mana Anda akan memotret, mengingat momen sunset atau sunrise tidak berlangsung lama. Golden hours adalah saat 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object. Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), dimana matahari sudah tebenam, tapi langit belum gelap hitam pekat. Pada saat ini langit akan berwarna biru.
4. Gunakan Tripod dan Kabel Release
Karena momen sunrise atau sunset adalah saat dimana bumi sudah minim akan cahaya matahari, makan harus menggunakan kecepatan rana yang rendah/mabat untuk mendapatkan exposure yang tepat. Maka gunakanlah tripod dan kabel release (jika ada), untuk membantu mengurangi getaran. Sekedar tips jika tidak memiliki kabel release bisa memanfaatkan shutter timer kamera.
5. Tentukan Objek Foto untuk Foreground
Meski tujuan utama adalah memotret sunset/sunrise, namun jangan lupa memberikan tambahan foreground agar foto anda lebih berdimensi. Macam foreground untuk sunset/sunrise bisa dalam dalam bentuk orang, pohon, rumah, kapal perahu, ataupun yang lain. Jika FG tidak ingin dijadikan foto siluet, gunakan flash untuk memberikan cahaya pada objek FG nya. Caranya metering ke sekitar matahari, fokus ke foreground dan jepret  .
6. Gunakan Filter
Filter sangat berguna untuk membuat efek-efek gradasi cahaya yang lebih bagus saat memotret sunrise ataupun sunset. Dengan menggunakan filter ND, GND ataupun CPL dan lainnya, Anda akan mendapatkan efek gradasi yang lebih dramatis.
7. Gunakan Lensa Tele atau Lensa Wide
Memotret sunset atau sunrise menggunakan lensa wide/sudut lebar (wide angel) merupakan hal yang biasa, tetapi jangan hanya terpaku pada lensa itu. Manfaatkan rentang lensa yang lain, misalnya lensa tele. Agar mendapatkan detail dari mataharinya.
8. Gunakan White Balance Cloudy
Seperti pada artikel tips memotret tentang Definisi dan Cara Setting White Balance telah dijelaskan, preset WB cloudy bermanfaat jika kita memotret cuaca mendung dan saat pagi hari atau senja hari. Dengan setingan white balance cloudy, bisa menambah dan memperkuat warna kuning kecoklatan pada warna matahari.
9. Gunakan Spot Metering
Untuk mendapatkan foto sunset atau sunrise yang bagus dengan exposure yang tepat, gunakan mode metering spot atau mode sunset scene jika Anda menggunakan kamera saku untuk memotret sunset/sunrise. Baca juga artikel Memahami Fungsi Metering Kamera Digital. Lakukan metering di sekitar matahari dan jangan tepat di mataharinya.
10. Buatlah Foto Siluet
Foto siluet masih menjadi daya tarik dijadikan foreground/FG pada foto sunrise atau sunset. Karena foto siluet dapat memberikan cerita sendiri pada foto tersebut. Jadi jangan hanya terpaku pada pemandangan langit sunset dan sunrise saja. Cara memotret siluet cukup mudah, arahkan metering kamera ke cahaya yang paling terang (sekitar matahari) kemudian arahkan fokus pada obyek yang akan dijadikan siluet bisa berupa manusia atau apapun yang ada di dekat Anda. Jangan lupa konsep Rule of Third ya :).
11. Perhatikan Matahari
Jangan sampai terlena dengan obrolan bersama teman misalnya, perhatikan kapan saat sunset atau sunrise tiba. Jika sudah tiba, jangan berhenti untuk memotret dan jangan lewatkan momennya. Dan juga jangan buru-buru untuk mengemas kamera jika matahari sudah melewati garis horizon. Karena cahaya sunset saat matahari baru tenggelam alam akan mengeluarkan cahaya yang indah. Dan begitu juga saat pagi hari/sunrise, cahaya saat matahari belum kelihatan juga mengeluarkan cahaya dan warna indah.
12. Berdoalah
Seperti pada artikel tips fotografi landscape, 90% butuh waktu dan tempat yang tepat. Begitu juga dengan memotret sunrise dan sunset butuh kesabaran dan keberuntungan, sudah jauh-jauh datang tiba-tiba datang hujan apa mau dikata ? :).

thumbnail

Fotografi Aksi Panggung atau Stage Photography




Persiapan
Sebagai persiapan awal memotret aksi panggung yang tak boleh dilupakan adalah susunan acara. Dengan mengetahui susunan acara ketika memotret panggung kita bisa lebih santai sedikit. Kita juga bisa hemat waktu kapan kita harus mendekati panggung dan kapan juga kita bisa leluasa menjauh. Dengan begitu kita bisa lebih berkonsentrasi ketujuan semula yaitu belajar fotografi panggung.
Persiapan kedua yaitu bawalah peralatan fotografi Anda yang seperlunya saja. Dengan bawaan sedikit kita bisa bebas dari beban berat dan tentu saja kita jadi bebas bergerak dan tak mudah capek. Selain susuna acara cari tahu juga tentang tema, kondisi panggung, denah panggung, dan kalau bisa mengikuti gladi bersih.
Pengaturan Kamera Ketika Memotret Aksi Panggung
Saat memotret panggung kita bisa menggunakan mode M (Manual) bisa juga A (Aperture Priority). Mode Manual sebaiknya digunakan ketika kondisi cahaya sangat rumit. Untuk lebih mudahnya disarankan menggunakan mode A agar setiap perubahan cahaya bisa di ukur secara otomatis oleh kamera.
Metode metering pada saat menggunakan mode M sebaiknya spot, sedangkan pada saat mode A sebaiknya Matrix. Intinya, pencahayaan panggung cepat sekali berubah. Jangan harap semua foto Anda selalu tepat meteringnya.
1. Gunakan Auto White Balance
Apa itu white balance (WB) baca terlebih dahulu artikelnya disini Definisi dan Cara Setting White Balance. Setingan WB (white balance) pada fotografi panggung untuk lebih efisienya kami menyarankan menggunakan setting white balance auto. Karena cahaya warna warni pada konser musik atau acara panggung biasanya sering berganti-ganti.
Namun jika Anda cukup sabar dan memiliki waktu yang banyak, Anda boleh menggunakan WB daylight (gambar matahari) atau lainnya untuk mendapatkan hasil foto yang diinginkan. Hasil terbaik fotografi panggung akan dicapai kalau Anda memakai format RAW, dan mengatur warna di komputer sesuai kebutuhan artistik yang ada. Hampir separuh foto panggung butuh post processing agar tampil sempurna.
2. Pengaturan ISO pada Fotografi Panggung
Seperti kita ketahui acara panggung yang menarik untuk difoto itu saat diadakan malam hari. Dan sedihnya sering kali acara begituan memiliki pencahayaan yang minim. Jika sudah demikian gunakan setingan ISO pada kamera Anda untuk mendapatkan kecepatan rana yang cepat. Baca lebih lanjut tentang ISO di artikel berjudul Definisi dan Fungsi ISO pada Fotografi.
3. Gunakan Lensa Tercepat dan Bukaan Terlebar
Lensa dengan bukaan lebar/besar dapat memudahkan kita memotret panggung dalam keadaan minim cahaya. Selain itu, jika menggunakan lensa bukaan lebar kita bisa menimalkan ISO serendah mungkin agar dapat terhindar dari noise. Jika punya lensa dengan F/1.2 gunakan saja. Dengan kombinasi lensa cepat dan ISO tinggi, kita bisa menangkap momen-momen bagus dengan kualitas foto panggung yang tajam.
4. Bermainlan dengan Exposure Compensation
Baca lagi apa itu Exposure Compensation pada artikel sebelumnya. Ketidakrataan pencahayaan panggung membuat metering pada kamera akan susah mendapatkan exposure yang tepat. Untuk mengatasi hal ini, gunakan tombol kompensasi yaitu tombol +/- di kamera kita. Kompensasi minus dilakukan bila latar belakang panggung lebih gelap daripada latar depan dan begitu sebaliknya.
5. Jangan Lupa Soal Komposisi
Kompsisi foto itu sangat penting, meskipun exposure tepat tapi komposisi kurang nyaman juga akan merusak mata pemirsa untuk menikmatinya. Rule oh Third sangat penting saat mengatur komposisi foto panggung. Yang paling penting pada fotografi panggung adalah, Anda berada di posisi yang terbaik. Jangan datang terlambat jika ingin mendapatkan foto yang bagus.
thumbnail

Arti dan Fungsi Metering Kamera Digital

Pada dasarnya, Metering adalah proses untuk menentukan bagian dari frame mana yang akan diperhitungkan sebagai acuan cahaya yang akan direkam sensor kamera.
Dalam memperhitungkan dan membandingkan daerah gelap dan terang itulah fitur kamera bernama METERING akan bekerja. Ada tiga jenis metering yang mendasar di kamera digital (Matrix, Center-Weighted, Spot). Biasanya mode metering hanya bisa digunakan di mode (Manual) dan otomatis (Aperture Priority dan Shutter Speed Priority) di mode lainnya metering akan mengikuti secara otomatis.

Metering Matrix/Multi Segment/Evaluative

 Dengan mode metering matrix, kamera akan mengukur/memperhitungkan seluruh area di frame. Mode matrix biasanya dipergunakan untuk foto-foto landscape agar exposure yang tepat diseluruh frame foto. Jika Anda ingin memotret landscape dan ingin tidak ada hihlight yang OE (overexposed) ataupun shadow yang UE (underexposed) diseluruh frame foto, gunakan metering matrix ini.

Metering Center Weighted

Jika matrix akan mengukur cahaya seluruh frame, maka berbeda dengan mode metering center weighted. Dengan center wighted, sensor kamera akan mengukur dan memperhitungkan cahaya hanya di tengah frame saja. Pilihan ini digunakan jika ingin memastikan objek di tengah frame adalah bagian yang ingin ditonjolkan dan untuk menyakinkan exposure yang tepat di objek tersebut.
Biasanya dengan menggunakan metering center weighted, dibeberapa foto akan mengalami sedikit over/under exposure di bagian pinggir frame.

Metering Spot

 Berbeda dengan matrik dan center weighted, mode metering SPOT hanya akan mengukur/memperhitungkan sebagian kecil dari frame. Metering spot biasanya ditandai dengan lingkaran kecil yang menyerupai titik. Nah dengan spot anda bisa bebas menentukan area mana yang dijadikan untuk pengukuran cahaya.
Spot metering biasanya digunakan jika Anda ingin membuat foto siluet ataupun foto panggung. Dengan mengarahkan pengukuran cahaya ke sumber cahaya misalnya lampu atau matahari. Bisa juga dengan menggunakan fitur AE Lock saat menggunakan metering spot ini. Setelah mengukur cahaya di bagian frame sumber cahaya kemudian pencet AE Lock lalu jepret ke objek yang akan dijadikan siluet.

 


 
thumbnail

Pertimbangan Sebelum Beli Kamera DSLR

Banyaknya jenis kamera digital saat ini membuat banyak faktor yang diperhatikan sebelum membeli kamera DSLR ataupun kamera saku dan kamera jenis lainnya. Kita sebagai konsumen dituntut harus tahu kamera jenis apa yang kita butuhkan, dan juga memikirkan terlebih dahulu untuk apa kamera nantinya.
Saat ini dipasaran banyak bermunculan beragam kamera digital yang kadang-kadang spesifikasinya beda tipis, untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal sebelum beli kamera yang menjadi pertimbangan agar mendapatkan kamera sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan sekaligus mendapatkan harga yang menarik

Membeli Kamera DSLR Untuk Apa ?


  1. Jika kamera digital nantinya hanya dibutuhkan untuk memotret seadanya misal untuk mengambil foto kegiatan sehari-hari kamera jenis point and shoot yang biasa disebut kamera saku adalah pilihan yang cocok. Selain mudah untuk dibawa kemana-mana, kamera saku juga harganya cukup terjangkau dengan kualitas hasil foto yang lumayan.
  2. Jika tujuan Anda membeli kamera digital untuk belajar fotografi, namun tidak mau repot membawa kamera yang lumayan berat, maka kamera prosumer adalah pilihan yang tepat. Kemampuan kamera prosumer hampir menyami kamera DSLR. Dari segi ukuran, kamera jenis ini lebih kecil dan secara manual ukurannya juga simpel serta segi harga juga dibawah DSLR, sehingga cukup mudah untuk dibawa-bawa.
  3. Naik tingkat sedikit dari kamera prosumer adalah kamera mirrorless. Kamera ini cocok untuk Anda yang ingin menggunakan kamera namun tidak terlalu repot membawanya namun bisa mengganti lensa seperti kamera DSLR. Namun harga kamera jenis mirrorless hampir setara dengan kamera DSLR.
  4. Nah jika Anda membeli kamera digital ingin mendapatkan foto yang berkualitas layaknya profesional, kamera type DSLR adalah solusinya. Dengan kamera DSLR Anda bisa mengatur kamera sesuai kemauan. Untuk memiliki kamera DSLR terlebih kamera DSLR terbaru, kita harus menyiapkan dana yang lumayan tidak murah. Selain itu dibutuhkan juga aksesoris tambahan untuk menghasilkan foto yang lebih berkualitas seperti lensa, flash eksternal, filter, dll.

Melihat Spesifikasi Sebelum Membeli Kamera Digital

  1. Sesuaikan dengan kebutuhan Megapixel atau ukuran sensor
  2. Perhatikan Battery Dan Chargernya
  3. Optical Zoom Vs Digital Zoom bagi yang memilih kamera saku atau kamera prosumer
  4. Fasilitas Bantuan Untuk Low-Light seperti ISO dan Image Stabilization
  5. Perhatikan Memory Storagenya
  6. Kemudahan fitur utama dan fitur tambahan serta kelengkapannya
  7. Cari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang kamera yang dipilih dari review dan spesifikasi lengkapnya
  8. Bandingkan harga dari toko satu ke toko lainnya atau dari toko online satu kesatunya
  9. Cobalah kamera tersebut sebelum membeli, jika belum bisa menggunakan ajaklah kawan dekat yang sudah dahulu menggunakan kamera digital.
  10. Kemudahan dalam servis dan purna jual
  11. Sesuaikan Kebutuhan Dan Isi Kantong Anda
thumbnail

Memahami Istilah Kecepatan Rana atau Shutter Speed

Shutter adalah semacam pintu penutup sensor pada kamera digital. Pada saat kita mengambil gambar, shutter akan membuka selama beberapa waktu sehingga sensor kamera akan merekam cahaya yang masuk melalui lensa.
Berapa lamanya shutter terbuka inilah yang dinamakan sebagai shutter speed atau kecepatan rana. Nah logikanya, semakin lama shutter ini terbuka, semakin banyak juga cahaya yang kerekam oleh sensor kamera. Begitu juga sebaliknya jika shutter semakin cepat menutup maka semakin sedikit pula cahaya yang terekam sensor kamera.
Satuan shuuter speed atau kecepatan rana sampai saat ini masih menggunakan satuan detik. Berikut contoh nilai shutter speed pada kamera digital.
(nilai besar) Bulb , 32 , 16 , 8 , 4 , 2 , 1s , 1/2 , 1/4 , 1/8 , 1/16 , 1/32 , 1/64 , 1/125 , 1/250 , 1/500 , 1/1000 , 1/2000 , 1/4000 . 1/8000 (nilai rendah)
1/2 lebih cepat dari pada 1s. Artinya semakin 1/… lebih besar berarti lebih cepat juga kecepatan rana yang didapatkan. Pada beberapa kamera digital yang baru , kecepatannya bisa lebih dari angka di atas, sehingga bisa menangkap gerakan peluru melesat misalnya.
Lalu kapan menggunakan shuttter speed yang cepat ataupun lambat ? OK, sebelumnya kami perkenalkan dulu dua istilah fotografi yang akan selalu berhubungan dengan shutter speed/kecepatan rana yaitu “Slow Shutter Speed dan High Shutter Speed”. Baiklah mari kita bahas satu persatu.

1. Slow Shutter Speed

Teknik slow shutter speed bisa disebut dengan istilah SS. Ditandai dengan nilai besar maka akan mendapatkan kecepatan rana yang rendah/lambat. Saat menggunakan teknis ini, sangat disarankan Anda menggunakan tripod atau alat penyangga kamera lainnya. Dengan teknik slow shutter speed ini, shutter akan dibuka lebih lama supaya kamera bisa mendapatkan cahaya yang sebanyak-sebanyaknya sampai menghasilkan gambar yang Anda inginkan.
Kapan menggunakan teknis slow speed ? kapan saja. Karena dengan menggunakan teknis SS ini, berbagai macam efek foto yang beragam. Misal digunakan jika malam hari untuk memotret jalan raya yang dilalui kendaran bersliweran. Dengan teknis slow shutter speed tersebut akan mendapatkan efek jalur cahaya/lightrail. Dengan efek sperti itu, seakan lampu-lampu mobil menyatu dan memanjang seolah seperti bayangan.

2. High Shutter Speed

Teknis high shutter speed ditandai dengan nilai yang rendah dan mendapatkan kecepatan rana yang cepat. Dengan teknis ini Anda bisa menangkap momen yang terjadi. Misal orang berlari, dengan kecepatan rana yang cepat maka kamera mampu menghasilkan gambar tepat diposisi dimana kita menekan tombol shutter kamera.
Teknis ini biasanya digunakan untuk pemotretan sport, satwa dan objek yang memiliki gerakan cepat lainnya. Dengan high shutter speed biasanya fotografer mengusahakan dirinya agar tidak tertinggal momen-momen menarik.




thumbnail

Tips Foto Lebih Tajam

Menghasilkan foto yang tajam setajam silet adalah keinginan banyak pecinta fotografi, dan beragam fitur kamera serta aksesoris tambahan sudah diciptakan untuk membantu kita menghasilkan foto yang tajam ini. Dari tripod, stabiliser (lensa ataupun kamera) sampai dengan software editor foto yang dilengkapi tool untuk mempertajam hasil akhir foto.

Cara memegang kamera

Cara memegang kamera sangat berpengaruh pada stabilitas kamera (baca: ketajaman foto).

Cara memencet Tombol Shutter

Cara Memencet tombol shutter di kamera anda juga sangat berpengaruh.

Shutter Speed.

Jika anda mempercepat shutter speed, maka foto anda akan semakin tajam. Ingat aturan baku agar foto tajam saat anda memotret handheld : ” gunakan shutter speed yang lebih cepat dibanding panjang fokal lensa anda”. Begini penjabarannya:
  • Jika panjang lensa anda 50mm, potretlah dengan shutter speed 1/60 detik atau lebih cepat
  • Jika panjang lensa anda 100mm, gunakan shutter speed 1/125 detik atau lebih cepat
  • Jika panjang lensa anda 200mm, gunakan shutter speed 1/250 detik atau lebih cepat

Aperture

Aperture berpengaruh pada depth of field (daerah fokus dalam foto anda). Mengurangi aperture (memperbesar angkanya, misal anda memilih f/22) akan menambah depth of field, artinya area tajam dalam foto akan semakin besar meliputi obyek yang dekat maupun jauh, sehingga ketajaman foto secara keseluruhan justru berkurang.
Maka lakukan sebaliknya, pilih aperture yang besar (angkanya kecil, misal f/4), maka anda akan memusatkan area tajam hanya didekat fokus. Memilih aperture yang besar memungkinkan anda mendapatkan shutter speed yang lebih cepat.

ISO

Menambah ISO akan mempercepat shutter speed serta memungkinkan anda memilih aperture yang lebih besar. Jika anda memotret di dalam ruangan, perbesar-lah ISO, tapi jangan berlebihan (misal: pilih ISO 600 untuk memotret didalam rumah). memilih ISO yang terlalu tinggi (diatas 800), bisa menyebabkan noise (bintik hitam kecil) dalam foto mulai terlihat.

Fokus

Jangan hanya percaya dengan autofokus kamera, periksalah secara cermat menggunakan mata dimata titik fokus anda berada. Ketika memotret wajah dalam jarak dekat, pastikan fokusnya jatuh diarea mata. Ketika memotret obyek, pastikan fokusnya memang ada dimana anda ingin area tersebut paling tajam. Autofokus kamera bisa saja salah dan justru menjatuhkan fokus disamping obyek yang anda inginkan.

Lensa

Jika anda kebetulan memiliki kamera SLR, pilihlah lensa terbaik yang bisa anda beli. Lensa yang berkualitas baik bisa secara drastis meningkatkan ketajaman foto anda. Lensa KIT yang biasanya ditawarkan dijual sebagai paket komplit bersama kamera biasanya kualitas-nya payah. Saran saya, jika anda baru akan membeli kamera SLR, belilah secara terpisah antara kamera (body only) dan lensa. Jangan membeli paket KIT. Lensa dengan kualitas bagus biasanya ditandai dengan aperture yang besar (misal f/2.8).

Sweet Spot Lensa

Lensa memiliki sweet spot-nya masing-masing. Sweet spot adalah aperture tertentu dimana lensa akan menghasilkan foto yang paling tajam. Sweet spot lensa biasanya berada dua stop diatas batas maksimal kemampuan aperture lensa. Misal, untuk lensa f/2.8 maka sweet spot-nya ada di f/5.6. Maka gunakan aperture f/5.6 jika anda memotret dengan lensa itu, foto anda akan tajam setajam silet. Kalau anda penasaran cara mengetahui sweet spot lensa anda.

Tripod

Tripod memang tidak praktis dan merepotkan, namun jika anda “sudi” membawanya, anda akan memperoleh foto yang lebih tajam. Terutama jika anda ingin menghasilkan foto HDR atau panorama, relakanlah membawa tripod.



Selasa, 03 November 2015

thumbnail

Mengenal ISO, Aperture, dan Shutter speed



Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep exposure secara mudah. Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami exposure, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.
Ketiga elemen tersebut adalah:
  • ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  • Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  • Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
1.      ISO
Dalam fotografi tradisional atau film ISO atau ASA bisa diartikan sebagai seberapa sensitif-kah sebuah film terhadap cahaya. Parameter ISO diukur dengan menggunakan angka, mungkin Anda pernah melihat pada film tertera angka 100, 200, 400, 800, dan lain-lain. Semakin rendah angka atau jumlah ISO yang tertera berarti semakin rendah juga sensitifitas film dan lebih halus juga grain atau noise yang dihasilkan oleh film tersebut.
Ketika memilih pengaturan ISO alangkah lebih baiknya menanyakan hal-hal dibawah ini pada diri Anda sendiri:
  1. Cahaya - Apakah subyek foto cukup cahaya?
  2. Grain - Apakah Anda memang menginginkan foto dengan sedikit grain atau foto rendah noise?
  3. Tripod - Apakah Anda sedang menggunakan tripod?
  4. Subyek gerak - Apakah subyek foto Anda bergerak atau diam?


2. Aperture
            Aperture secara sederhana diartikan sebagai ukuran dari bukaan lensa ketika pengambilan gambar (diafragma). Ketika menekan tombol shutter kamera, sebuah lubang dalam kamera Anda akan terbuka dan membuat sensor kamera menangkap gambar dari obyek yang akan dipotret.
                Aperture diukur dengan 'f-stops'. Dalam artikel-artikel selanjutnya kemungkinan besar Anda akan sering menjumpai format penulisan tersebut, sebagai contoh f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/22 dan seterusnya. Menambah satu stop atau 1/2 stop brarti merubah ukuran bukaan lensa dan pastinya juga jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera. Ingat juga bahwa merubah Shutter-Speed dengan menambah satu atau 1/2 stop maka akan merubah jumlah cahaya yang masuk ke dalama kamera.
                Bukaan aperture sangat berkaitan dengan DOF (depth of field) atau bokeh, jika bukaan aperture semakin besar maka bokeh atau sisi ruang blur akan semakin besar, juga sebaliknya jika bukaan aperture semakin kecil maka ruang blur atau bokeh juga menyempit.
foto menggunakan bukaan aperure besar



foto menggunakan bukaan aperture kecil


3. Shutter speed
                Shutter Speed adalah kecepatan bukaan rana yang dapat mempengaruhi pencahayaan yang sempurna, mengontrol blur, dan membuat efek yang menarik. Shutter speed dapat diatur dalam satuan detik atau bahkan sepersekian detik. Sebagai contoh shutter speed 1/100 berarti bahwa rana akan menutup pada 1/100 detik atau 0,01 detik. Hal yang perlu diingat yaitu jika semakin cepat shutter speed maka semakin kecil cahaya yang masuk ke dalam kamera, sebaliknya jika shutter speed lambat maka cahaya yang masuk akan semakin besar namun dengan resiko terjadinya blur pada hasil jepretan karena terjadinya goncangan pada kamera
thumbnail

Mengenal lensa fix atau prime

LENSA FIX ATAU LENSA PRIME

Pada artikel kali ini saya akan membahas tentang lensa fix atau lensa prime, lensa yang lagi naik daun belakangan ini. Oke buat para photographer profesional mungkin sudah ga asing lagi dengan jenis lensa yang satu ini, namun bagi yang baru mengenal dunia fotografi mungkin bertanya-tanya apa itu lensa fix ??
Lensa fix/prime adalah lensa yang hanya memiliki satu focal length, contoh dari lensa ini yaitu Canon 50mm f/1.8, Nikon 35mm f/1.4G, Canon EF 20mm f/2.8 atau lensa Tamron 90mm f/2.8 Macro. Bisa dibilang lensa jenis ini adlah kebalikan dari lensa zoom karena lensa zoom memiliki banyak focal length.
 
Berikut ini beberapa keistimewaan/kelebihan dari lensa fix/prime:
1.     Ukuran
Lensa fix/prime memiliki ukuran yang kecil, karena ukuran yang kecil tersebut maka mudah pula dalam penggunaannya karena bobot kamera menjadi ringan.
2.     Kualitas ok
Lensa fix/prime hanya memiliki satu focal length optik yang ada didalamnya cenderung sangat bagus.
3.     Lensa cepat
Lensa fix/prime juga sering disebut sebagai lensa cepat, karena dapat menggunakan shutter speed tinggi disaat yang sama pula kita dapat memaksimalkan bukaan aperture.
4.     Harga murah
Harga untuk mahar lensa ini tergolong murah dibanding lensa zoom, berkisar antara 1jt sampai puluhan juta tergantung dari kualitas lensa tersebut.
5.     Bokeh Mantap
Karena menggunakan aperture yang maksimal maka bokeh yang dihasilkan dari jepretan kita juga akan maksimal.
hasil jepretan menggunakan lensa fix
6.     Kreatifitas tanpa batas
Dengan tidak adanya fitur zoom pada lensa ini, kita ditutut untuk bisa berpikir cepat dan kreatif saat menentukan komposisi sebuah foto.
 

 

About

Diberdayakan oleh Blogger.