Fotografer kenamaan,
Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding
Exposure yang didalamnya diterangkan konsep exposure secara
mudah. Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui
untuk memahami exposure, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga
Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya,
bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.
Ketiga elemen tersebut adalah:
- ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
- Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
- Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
1. ISO
Dalam fotografi tradisional atau film ISO atau ASA
bisa diartikan sebagai seberapa sensitif-kah sebuah film terhadap cahaya.
Parameter ISO diukur dengan menggunakan angka, mungkin Anda pernah melihat pada
film tertera angka 100, 200, 400, 800, dan lain-lain. Semakin rendah angka atau
jumlah ISO yang tertera berarti semakin rendah juga sensitifitas film dan lebih
halus juga grain atau noise yang dihasilkan oleh film tersebut.
Ketika
memilih pengaturan ISO alangkah lebih baiknya menanyakan hal-hal dibawah ini
pada diri Anda sendiri:
- Cahaya - Apakah subyek foto cukup cahaya?
- Grain - Apakah Anda memang menginginkan foto dengan sedikit grain atau foto rendah noise?
- Tripod - Apakah Anda sedang menggunakan tripod?
- Subyek gerak - Apakah subyek foto Anda bergerak atau diam?
2. Aperture
Aperture
secara sederhana diartikan sebagai ukuran dari bukaan lensa ketika
pengambilan gambar (diafragma). Ketika menekan tombol shutter kamera,
sebuah lubang dalam kamera Anda akan terbuka dan membuat sensor kamera
menangkap gambar dari obyek yang akan dipotret.
Aperture diukur dengan 'f-stops'. Dalam
artikel-artikel selanjutnya kemungkinan besar Anda akan sering menjumpai format
penulisan tersebut, sebagai contoh f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/22 dan seterusnya.
Menambah satu stop atau 1/2 stop brarti merubah ukuran bukaan lensa dan
pastinya juga jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera. Ingat juga bahwa merubah
Shutter-Speed dengan menambah satu atau 1/2 stop maka akan merubah jumlah
cahaya yang masuk ke dalama kamera.
Bukaan
aperture sangat berkaitan dengan DOF (depth of field) atau bokeh, jika bukaan
aperture semakin besar maka bokeh atau sisi ruang blur akan semakin besar, juga
sebaliknya jika bukaan aperture semakin kecil maka ruang blur atau bokeh juga
menyempit.
![]() | |||||
| foto menggunakan bukaan aperure besar |
![]() |
| foto menggunakan bukaan aperture kecil |
3. Shutter speed
Shutter Speed adalah kecepatan bukaan rana yang dapat
mempengaruhi pencahayaan yang sempurna, mengontrol blur, dan membuat efek yang
menarik. Shutter speed dapat diatur dalam satuan detik atau bahkan
sepersekian detik. Sebagai contoh shutter speed 1/100 berarti bahwa rana akan
menutup pada 1/100 detik atau 0,01 detik. Hal yang perlu diingat yaitu jika
semakin cepat shutter speed maka semakin kecil cahaya yang masuk ke dalam
kamera, sebaliknya jika shutter speed lambat maka cahaya yang masuk akan
semakin besar namun dengan resiko terjadinya blur pada hasil jepretan karena
terjadinya goncangan pada kamera
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email



No Comments